Sunday, August 15, 2010

Sukamdani Sahid Gitosardjono





Kisah-kisah Inspiratif - Sukamdani Sahid Gitosardjono



Bermula dari Percetakan



Kisah-kisah Inspiratif - Mulai terjun dalam dunia wiraswasta setelah menikah dengan Juliah, putri Mangkunagaran, Solo. Ketika itu, 1953, Sukamdani S. Gitosardjono mendapat pinjaman uang Rp 25 ribu dari mertuanya. Mas Kam -- demikian panggilan akrabnya -- mendirikan percetakan yang letaknya di rumah sederhananya di Jakarta. Tempat itu kemudian berubah menjadi hotel megah, Hotel Sahid Jaya, miliknya.

Usahanya ketika itu hanya dengan dua buah mesin cetak hand press, dengan bantuan dua orang pekerja. Mas Kam sendiri yang membeli kertas ke Jalan Tiang Bendera, Jakarta. Ia pula yang mengantar dan menjemput pesanan cetak, termasuk menagih biaya cetak. ''Naik turun oplet, tak heran, saya banyak kenalan nonpri,'' katanya mengenang masa dulu.

NV Harapan Massa, percetakan yang didirikannya itu, berjalan lancar. Tahun 1958, Mas Kam pun berhasil mengembangkan usahanya. Ia mendirikan, sekaligus menjadi Presiden Direktur, PT Tema Baru yang juga bergerak dalam bidang percetakan dan penerbitan. Perusahaan itu mendapat order dari Departemen Dalam Negeri, Departemen Keuangan. Mesin cetaknya pun sudah lebih modern. Dan pada tahun 1962, Mas Kam sudah punya tiga percetakan di Jakarta, serta satu lagi di Solo.

Sehari-hari ia berkantor di Hotel Sahid Jaya, Jakarta. Kalau di sana tak dijumpai, Mas Kam bisa ditemui di kantornya yang lain, Kadin Indonesia. Menjadi Ketua Umum Kadin sejak 1982, mengalahkan saingan kuatnya, Probosutedjo. Tahun 1985 ia terpilih lagi menjadi Ketua Umum Kadin.Begitu terpilih menjadi Ketua Umum Kadin Indonesia, yang dibenahinya pertama kali adalah hubungan antara pengusaha pri dan nonpri. Jika hal itu tidak ditangani secara berhati-hati, katanya, akan bisa menimbulkan gejolak sosial. Di bawah pimpinannya, Kadin merintis hubungan dagang langsung dengan RRC. Penandatanganan perjanjian perdagangan antara Kadin dan Badan Promosi Perdagangan Internasional RRC dilaksanakan di Hotel Shangrila, Singapura, Juli 1985. Ini boleh disebut karya besar Mas Kam, walaupun dalam hal ini, ia sangat berhati-hati mengeluarkan komentar.

Didampingi oleh Juliah yang dinikahinya pada 1953, Sukamdani disiplin dalam bekerja. Ia mengaku, sehari bekerja 15 jam, 12 jam disebutnya bekerja produktif, dan tiga jam nonproduktif. Pukul lima pagi hingga setengah delapan, ia menyiapkan pembagian kerja, yang mana untuk Sahid Group, dan yang mana untuk Kadin. Pukul delapan ia berangkat ke kantor dan bekerja hingga pukul enam petang. Sesudah itu ia mulai bekerja nonproduktif, yakni menghadiri undangan atau kegiatan sosial.

Hotelnya kini berpencar di kota-kota: Solo, Semarang, Yogya, Surabaya, Manado, dan Jakarta. Seluruhnya ada 823 kamar. Semua hotelnya memakai nama Sahid, untuk mengenang nama ayahnya, Sahid Djogosentono. ''Saya tak pernah berputus asa. Mengerjakan sesuatu selalu sampai tuntas,'' katanya tentang sukses bisnisnya.

Sebuah contoh adalah usahanya mendirikan pabrik semen di Palimanan, Cirebon. Pabrik yang dirintis sejak 1974 itu macet karena tidak ada kecocokan dengan mitra asingnya dari Swiss. Ia kemudian mengadakan introspeksi. ''Kok harus selalu dengan asing, mengapa tidak dengan swasta nasional?'' Ia lalu menggandeng Liem Sioe Liong. Dan berhasil.

Berdirilah PT Tridaya Manunggal Perkasa Semen, sebuah usaha patungan yang mengelola pabrik semen Palimanan. Pabrik yang bernilai sekitar 300 juta dolar AS itu, tahun 1985 sudah berproduksi 1,2 juta ton.

Ayah lima anak ini selalu menyiapkan kader-kader untuk melanjutkan usahanya. Kader itu bukan saja dari keluarga dekat, tetapi juga dari para karyawannya sendiri. Sudah banyak karyawannya yang dididik untuk menduduki jabatan pimpinan. Di bidang perhotelan, Sahid Group bahkan mempunyai akademi sendiri.

Mas Kam juga gemar golf. ''Untuk mengalihkan konsentrasi pikiran dari tugas rutin,'' katanya.





***



Prof. DR. H. Sukamdani S. Gitosardjono



Sukamdani's name is often connected with hotels. In several big cities in Indonesia, people can easily find Sahid hotel as one of the big famous hotels in that city. The existence of Sahid hotel network could not be separated from the founder's profile, Sukamdani Sahid Gito Sardjono. Mr. Sardjono is not only active as a national entrepreneur, but he is also known as an active person in state activities, also as a person who has special attention to state problems.


As an entrepreneur, Sukamdani is a successful national figure in various areas, from hotels, property, trade, industry, etc.
As a well-known organizer, Sukamdani successfully led Indonesia's Chamber of Commerce for two periods, from 1982-1998, while at the same time he also took part in the release of Law No. I/1987 about Indonesia's Chamber of Commerce. He is also entrusted by a lot of other business organizations with the chairman position.


His involvement in state matters has taken him to the position as member of the Supreme Advisory Council and he was also Vice-Chairman for Economy, Finance and Industry Commission (EKUIN), in 1988-1993. Mr. Sukamdani was also active as the People's Consultative Assembly member in 1987 - 1999 period.


With his tons of activities, it is not a surprise to find Mr. Sukamdani rewarded by various medal/star of honor from Indonesian government, and the highest is Mahaputera Medal of Star. From abroad, he received honors from Japanese Government and the People's Republic of China Government. As an appreciation for Mr. Sukamdani's role in improving Indonesia and Japan's trade and investment relations, the Japanese Government rewarded him medal of honors: Order of Rising Sun, Gold and Silver Star (1993). On 1994, Chinese government rewarded him the honor of People's Friendship Ambassador for Mr. Sukamdani's role in promoting the recovery of Indonesia-China direct trade relations, a start for the re-establishment of Indonesia and the People's Republic of China diplomatic relations back in 1990.


His concern for education has inspired him to establish Sahid Jaya Foundation, a foundation with concern in prosperity, education and social areas. As the founder of Indonesia's Hotel and Restaurant Association, Mr. Sukamdani always have his eyes in tourism issues. Sahid Tourism Education Institution is a pioneer for the establishment of other tourism schools, because at that time there was no formal education institution in tourism. In the past, Sahid education institution was the only integrated tourism education institution, with its relatively short course-time, high-school, academy, Tourism High School (STP) until university for Bachelor and Master Degrees.


As a reward for his contribution to education, in 1986, Sukamdani was rewarded doctor honoris causa degree in Economy and Social Sciences from Takoshoku University, in Tokyo, Japan and doctor honoris causa degree in Social, Education and Economy Sciences from European University, Antwerpen, Belgium in the same year. In 1997, before his 70th birthday, Mr. Sukamdani had the honor to receive Professor degree for Economy Sciences from Luohe University, Henan, People's Republic of China.


Various activities and the honors he received reflected his involvement in various aspects of life. Sukamdani said, the key to his success is balance in everything, physically and mentally, materially and spiritually.

Sahid's Projects
Hotels, apartments and offices build by Sahid Group are property businesses. PT. Hotel Sahid Jaya International is the flag of Sahid's core business in hotel industry has been registered in the stock exchange (go public). With the intention of exercising effectiveness and efficiency in similar business, PT. Hotel Sahid Jaya International made a liquidation of 8 Sahid hotels all over Indonesia, so in the future there will be only one company in hotel industry which has hotel network every where, in Indonesia and abroad. Right now, Sahid has 18 hotels, where the management contract is owned wholly or partially, also the ones where the management contract is under Sahid Hotel Network management.


Besides Sahid Jaya Hotel and Istana Sahid Apartment, located in an area of 5,5 hectares in the Jenderal Sudirman golden triangle, soon they will build Sahid Tower for office and Sahid Perdana as boutique hotel, shopping center, supermarket and food center. The four buildings will be integrated in one area called Sahid City Superblock or Sahid Pura Kencana, which will be an answer to executives need for a total activity in one area to make the best of their time. The whole project hopefully will be fully established in next 5 years.

Projects
• Hotel Sahid Jaya Jakarta
• Hotel Sahid Jaya Lippo Cikarang
• Hotel Sahid Bandar Lampung
• Hotel Sahid Raya Solo
• Hotel Sahid Kusuma Raya Solo
• Hotel Sahid Raya Yokyakarta
• Hotel Sahid Surabaya
• Hotel Sahid Legi Mataram
• Hotel Sahid Kawanua
• Hotel Sahid Manado
• Hotel Sahid Toraja
• Hotel Sahid Mariat Sorong
• Hotel Sahid Jaya Makasar
• Hotel Sahid Raya Pekanbaru
• Hotel Sahid Medan
• Hotel Sonni Putri Galeria, Bali
• Hotel Sahid Rasinta Batam


APA yang Anda lakukan di bulan madu?
"Kalau mereka, ternyata bukan bermesra-mesraan, melainkan langsung mendirikan perusahaan dan bekerja keras. Maka sampai sekarang, kita boleh saja iri melihat mereka sejak pagi di lapangan golf, siang sampai malam selalu berdua terus," kata Menko Kesra Jusuf Kalla.


Sementara Aburizal Bakrie, Ketua Kadin, melukiskan, "Kalau umur saya baru 25 tahun, tidak mungkin saya berani menikah dengan gadis berusia 19 tahun. Minta keluar dari pegawai negeri, kawin, dan mendirikan perusahaan berdua...."


Tetapi, itulah yang dilakukan oleh pasangan Sukamdani Sahid Gitosardjono dan Juliah. Hasilnya, "... Pak Sukamdani sukses dalam merintis bisnis, benar-benar sebuah keberanian luar biasa," kata Jusuf Kalla, Senin (2/6) malam, di Hotel Sahid Jaya Jakarta, ketika memperingati 50 tahun Sahid Group.


"Saya memang sudah bekerja di Kementerian Dalam Negeri. Namun, kariernya nanti paling jadi camat, maksimal bupati. Apa cukup uang kalau sudah kawin dan punya banyak anak?" kata Sukamdani. Bisnis pertama yang dia tekuni adalah membikin percetakan dengan dua mesin cetak hand press buatan Solo, Juni tahun 1953, hanya beberapa hari sesudah menikah.


Pengusaha berusia 75 tahun dan punya beragam usaha, dari hotel sampai pertekstilan, mengatakan," Wah kalaumengapa percetakan, saya sendiri juga enggak tahu. Tetapi, apa pun bisnis yang kita terjuni, syaratnya satu, jujur dan harus bekerja dengan tekun...." (jup)

Kawin Emas Prof Dr Sukamdani SG
PENGUSAHA Prof Dr H Sukamdani Sahid Gitosardjono, kemarin memperingati perkawinannya yang ke-50 atau Kawin Emas di Sala. Peringatan ditandai dengan penanaman pohon beringin sebanyak 50 batang di lingkungan kampus Akademi Pariwisata Sahid, Sala. Pada acara itu, Sukandami menceritakan perjalanan perkawainannya dengan istrinya, Ny Juliah. Malam harinya bertempat di Hotel Sahid Kusuma, satu dari dua hotelnya di Sala, diadakan buka bersama bersama anak yatim piatu dan pemberian santunan dilanjutkan syukuran. ►e-ti, dari berbagai sumber.